Subayang Tempat Ilmu dan budaya di wariskan dari generasi ke generasi

Anak Muda Adat memperhatikan cara orang tua menggiring ikan di lubuk larangan. dok. AMAN_Kampar

oleh : Nuskan Syarif

Terusan, 25 Juni 2026 Masyarakat Adat memiliki cara terbaik dalam menurunkan ilmu dan pengetahuan kepada anak kemenakannya, ilmu dan pengetahuan diwariskan secara turun temurun melalui tutur dan laku nyata, ini bertujuan untuk menguatkan pengetahuan kepada anak muda generasi pernerus.
Di sungai dan di darat generasi muda di tempah oleh orang tua dan mamaknya untuk mengenal pranata adat dan budaya serta bertahan hidup. Seorang anak laki-laki akan mulai dibawa ke kebun, hutan dan sungai oleh ayah atau paman/ mamaknya, ini bertujuan agar anak laki-laki yang berusia 4 – 9 tahun mengenal soal lingkungan, budaya dan bertahan hidup di hutan dan sungai.
Hampir semua anak laki-laki berusia 6 – 10 tahun yang terjun kesungai untuk memulai mengenal cara menjaring, menjala dan memanah ikan. Anak laki-laki dibekali panah ikan dan kacamata selam terbuat dari kayu, lalu meningkat diberikan kacamata yang dibeli di ibu kota kecamatan. Dari piau orang tua dan mamak mengajarkan anak kemenakan mereka cara mendapatkan protein dari sungai, mengajarkan mereka mana yang boleh dan tidak boleh.
Lubuk larangan adat merupakan khasanah pengetahuan yang membawa anak muda menuju pengetahuan budaya kelevel tinggi, proses bukak lubuk larangan merupakan ajang penurunan tradisi, budaya dan pengetahuan kepada generasi muda, proses demi proses anak muda laki-laki akan di bimbing setiap proses yang akan dilalui. Dan tidak banyak generasi muda yang akan tampil kecuali generasi muda yang akan berkembang keilmuannya yang di usia kecil mereka sudah di bekali pengetahuan tentang budaya dan adat istiadat.
Anak laki-laki merupakan generasi penerus pewaris budaya dan tradisi yang di warisi secara bertutur ke setiap anak sejak usia dini. Mereka di berikan pengetahuan setahap demi setahap dan harapan terbesar ninik mamak berada di bahu mereka untuk pewaris budaya yang akan mempertahankannya hingga mereka akan menurunkannya Kembali ke generasi muda berikutnya.

Kaum Muda menjaga tradisi
Sahir Salah satu anak usia 9  tahun yang ikut dalam prosesi buka lubuk larangan adat kenegerian Terusan, diantara banyak teman-temannya, dia yang mencolok berbaur dengan kaum laki-laki dewasa berjibaku gotong royong membuat bolek (jaring pengempang sungai agar ikan tidak lolos ke hulu maupun kehilir) tubuh kecilnya sibuk di antara tubuh besar ninik mamak, apak, dan abangnya. Memegang tali mipadang/ rapia diatangannya untuk diberikan kepada kaum laki-laki dewasa untuk mengikat kayu kerangkat bolek. Di derasnya sungai subayang Sahir menyawang (berjalan dalam sungai yang dangkal berarus deras) memberikan tali yang di butuhkan oleh kaum laki-laki yang bergotong royong menyelesaikan kerangka bolek. Di selah-selah waktu luangnya, Sahir mengisi batu-batu besar di atas rak bolek agar tidak terbawa oleh derasnya arus subayang, sesekali dia menyelam mencari batu, sesekali meletakan batu yang dia dapat dan terus berulang hingga sorot kamera menghadap kedia lalu dia berhenti dan tersenyum malu sambil berkata “ apak Sahirkan malu pak sambil dia tersenyum dan tertawa mengejar” lalu dia melanjutkan kegiatannya tanpa menghiraukan sorot kamera yang terus mengabadikan Sahir.

Sahir menyusun batu ke kayu penyanggah bolek/ Jaring yang akan di pasang membelah lubuk Larangan. dok. AMAN_Kampar

Sahir Dilahirkan di Terusan yang kampungnya berada di Jantung hutan Suaka Rimbang Baling yang awalnya Adalah Hutan wilayah adat Kenegerian Terusan, di sela kegiatan dia yang mengantarkan tali dan meletakan batu di rak kerangka bolek, kami sempatkan mengobrol sambil bersenda gurau, “Sahir kenapa nga mandi-mandi saja seperti Kawan-kawan lainnya ujar ku kepada Sahir, Sahir hanya tersenyum sambil menjawab dengan malu-malu ini Adalah untuk kita semua pak jadi Sahir ikut apa yang bisa dilakukan”
Jawaban singkat Sahir menyiratkan betapa orang tua dan mamaknya telah menanamkan rasa kepedulian dan pengetahuan tentang adat dan budaya kepada seorang generasi muda yang telah menunjukan dirinya dengan ikut serta bahu membahu dengan apak, ninik mamak dia yang berada di Tengah arus subayang.
Sahir sesekali melemparkan batu kecil sembari berkata apak saja udah Lelah tadi di hilir untuk mendirikan bolek masa saya nonton saja tadi pas di hilir bapak tidak membolehkan saya ikut karena arusnya cukup deras, jadi saya lakukan di sini di arus yang tidak begitu deras.

Anak kemenakan Kenegerian Terusan yang terlibat dalam buka Lubuk Larangan Adat. dok. AMAN_Kampar

Mendengarkan kami bersendagurau seorang mamak/ paman kami memanggil beliau mak Win menghampiri lalu berkata “ kalian lah mewarisi budayo kito, indak banyak anak mudo nan mambukak dighi untuk tojun dalam proses patamo bukak lubuk laghang ko, banyak nan duduak namun beko ikuik manyolam manangkok ikan, kok tongroyong ko banyak nan duduak nyia (kalian sudah mewarisi budaya kita, tidak banyak anak muda yang membuka diri untuk terjun langsung dalam proses pertama buka lubuk larangan ini, banyak yang hanya duduk-duduk namun nanti ikut menyelam untuk menangkap ikan, namun gotong royong ini banyak yang hanya duduk-duduk saja)
Budaya dan tradisi dipertahankan dalam gempuran majunya dunia, sehingga anak muda yang peduli dengan tradisi dan budaya tidak banyak lagi, saat ini anak muda mulai sibuk dengan gedget/ handphone, namun mereka masih berjuang untuk mempertahankan jati diri mereka sebagai anak kemenakan di Pranata Adat kenegerian Terusan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *