Budaya Menganyam di Kalangan Masyarakat Adat Talang Mamak Masih Bertahan di Kungkungan Perkebunan Sawit.

Kaum perempuan adat Talang Mamak berjalan di jalan lintas Komunitas Batin Ampang Delapan sambil membawa ikatan pandan di atas kepala mereka, Senin, 22 Juni 2026

Komunitas adat Talang Mamak terus berjuang dalam kungkungan Perusahaan sawit yang merengut wilayah adat mereka, dalam segala terbatasan mereka terus mempertahankan budaya yang semakin tergerus masa, wilayah adat komunitas talang mamak Ampang delapan tidak bersisa atas pemberian izin yang diberikan pemerintah kepada Perusahaan.

Perempuan Adat Suku talang Mamak Ampang Delapan Sedang Mamanggul Pandan untuk Kerajinan Anyaman. dok. AMAN_Kampar

Ruang Kelola kaum perempuan hilang, pandan sulit di dapat dan harus jauh melakukan perjalanan untuk mendapatkannya. Perjalanan kaum perempuan mencari pandan sekitar lima belas menit sampai satu jam perjalanan ke rawa didalam Perkebunan sawit.

Mira salah seorang perempuan adat yang sedang memikul ikan pandan di kepala saat bertemu dijalan ke komunitas ampang delapan mengatakan “ ei pak jauh dapatnye dah tak ade dekat rumah, ini kami dapat di Perkebunan Perusahaan dan tak banyak ( haduh pak jauh mendapatkannya dan sudah tidak ada lagi yang dekat di perumahan, ini kami mendapatkannya di perkebunan perusahaan dan itu tidak banyak) ujar mira sambil berlalu.

Tradisi Menganyam yang kian menghilang di kalangan perempuan adat Komunitas Ampang Delapan

Menganyam dan budaya komunitas ampang delapan Adalah satu kesatuan, tikar pandan merupakan bagian penting dari setiap rumah tangga masyarakat adat di ampang delapan. Tikar dipakai untuk tidur, juga alas duduk untuk menyambut tamu yang datang  kerumah.

Nenek Siamas orang tua dari batin ampang delapan mengatakan “Saat ini tradisi menganyam diambang punah, ini dikarenakan hilangnya zona pandan yang dulu menjadi daerah perelindungan perempuan adat di Ampang delapan, perempuan muda sekarang udah tidak banyak yang bida menganyam, kalua dulu kami wajib bisa menganyam karena ini merupakan modal untuk menikah selain bisa masak ujar nek siamas.

Mengayam merupakan tradisi yang dilakukan oleh Kaum Perempuan di Seluruh Komintas Adat yang ada di Provinsi Riau. dok.AMAN_Kampar

Dulu kami mudah mencari pandan saat hutan masih luas, rotan juga mudah kami dapatkan karena antara rotan dan anyaman pandan ini saling keterikatan, rotan untuk dibuat keruntung dan pandan bisa dibuat tikar dan semua jenis peralatan yang dibunakan untuk kegiatan rumah tangga, ujar nek Siamas

Nek Yurnalis menimpali, dulu kami menganyam ni diajarkan orang tua, mulai nganyam tikar, kibang, keruntung dan banyak lagi jenisnya itu semua kami pelajari, karena disaat kami dewasa dan menikah itu menjadi modal berumah tangga, karena dulu di hutan kami menggunakan peralatan dari anyaman pandan dan rotan untuk tempat hasil hutan yang kami dapat. Begitu juga untuk tempat ikan, namun saat ini jangankan hasil tangkapan dan buah hutan yang kami dapat, bahan anyaman berupa pandan aja kami dah payah dapatnya, ujar Yurnalis sambil menunduk dan mata berkaca-kaca.

Kehilangan ruang Kelola perempuan adat, menghilangkan tradisi yang terikat kuat di jiwa permepuan adat ampang delapang. Tradisi menganyam akan menghilang, tikar pandan akan menjadi barang yang akan bernilai mahal karena sulitnya di dapat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *