Keterikatan Masyarakat Adat Terhadap Hutan

Hasil Hutan Bukan Kayu berupa Buah-buahan di angkut ke ibu Kota Kecamatan Kampar Kiri Hulu, dok. AMAN_Kampar

Oleh : Nuskan Syarif

Gemericik Sungai Subayang bersahutan dengan suara ungko di puncak bukit sekitar Kenegerian Terusan, menapaki jalan setapak menuju ketengah hutan Bersama dengan pemuda adat dengan tujuan mengambil hasil hutan bukan kayu berupa Petai, idan dan beberapa jenis buah hutan yang musimnya sudah datang. Dari pemukiman Kenegerian Terusan, Desa Terusan, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, Minggu 26 Juni 2026. Kamput dan Amer berangkat menuju hutan dengan membawa peralatan seperti parang, tali, ambuang dari karung isi 50 kg yang akan di gunakan untuk mengangkut hasil hutan nantinya. Persiapan untuk kehutan telah di lakukan satu hari sebelum keberangkatan, memastikan daerah mana yang akan di tuju berdasarkan survey beberapa hari sebelumnya.

Perjalanan dimulai dari kampung menuju hutan, berjalan kaki menyusuri jalan setapak melewati Perkebunan karet yang menghampar sejak dari pemukiman masyarakat. Perjalanan naik turun bukit yang cukup terjal tak membuat kedua orang ( Kamput dan Amer) ini berhenti untuk rehat sejenak.

Satu jam perjalanan baru sampai di perbatasan hutan dan kebun karet tua, beristirahat sejenak sambi menyeruput kopi yang dibawa dan sedikit kue kering lalu perjalanan di lanjutkan menuju lokasi tempat petai hutan dan idan/ ridan. Petai hutan merupakan jenis hasil hutan bukan kayu ini menjadi idola bagi ranger.

Hasil hutan Bukan Kayu berupa Petai yang di dapat oleh Masyarakat Adat, dok. AMAN_Kampar

Petai di pasaran lokal di hargai sekitar Rp. 25.000 – Rp. 35. 000,-/ kg, sekali mendapatkan petai ranger biasanya sekitar 100 – 250 kg petai segar. Hasil dalam satu hari perjalanan cukup besar berkisar Rp. 2.500.000, – Rp. 3.500.000,-. Sedangkan hasil dari idan biasa di hargai berkisar Rp. 7000 – 10.000,- / kg.

Pada musim nya biasa para ranger mendapatkan penghasilan sehari berkisar Rp. 1.500.000,- /  hari, pada musim petai dan ini berlangsung hingga satu minggu penuh para ranger bekerja mencari dan memanen petai hutan penghasilan dalam satu minggu berkisar Rp. 4.000.000 – Rp. 10. 000.000,- / orang. Pada musim idan/ ridan ranger menghasilkan pendapatan berkisar Rp. 4000.000 – 12.000.000,- / orang dalam seminggu.

Kamput salah satu ranger mengatakan penghasilan ini cukup besar bagi kami komunitas adat, bagi kami ini penghasilan yang tidak pasti karena kadang dapat kadang tidak, pas musim besar seperti saat ini maka penghasilan cukup lumayan, namun Ketika masa sulit penghasilan sekitar 1.000.000/ 3 hari itu sudah cukup besar ujar kamput.

Hutan Merupakan Sumber Pendapatan

Hutan Adalah bagian penting bagi masyarakat adat, hutan merupan sumber kehidupan dan sumber pengobatan. Denyut nadi kehidupan masyarakat adat 70% berada di hutan, kehidupan yang terus memperkuat struktur budaya dan adat istiadat. Di hutan para kaum laki-laki memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka, di hutan kaum laki-laki menggantungkan penghidupan mereka dari hasil hutan bukan kayu dan kayu untuk membiayai keperlu rumah tangga dan biaya sekolah anak-anak mereka yang berada di luar komunitas.

Disaat hutan memberikan musim buah, seluruh kaum laki-laku yang kuat berangkat melanglang buana menyusuri jalan-jalan setapak di hutan menuju pohon-pohon yang menghasilkan buah-buahan yang bisa di jadikan uang dan dijual kepembeli lokal. Hasil yang di dapat beraneka ragam tergantung kepada ranger yang mendapatkan hasil kekayaan hutan ini.

Hutan menjadi ibu yang memberikan kasih sayang kepada masyarakat adat, dan hutan Bagai urat nadi kehidupan bagi komunitas-komunitas adat di Luhak Batu Songgan, kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Dari kasih sayang Hutan, masyarakat mendapatkan nilai ekonomi yang cukup berarti untuk kebutuhan rumah tangga dan biaya anak –  anak sekolah.

Tabuah salah seorang penampung hasil dari para ranger mengatakan “pada saat musim petai  para bapak-bapak dan anak muda yang mau berkerja keras mencarinya cukup lumayan penghasilannya, terkadang lebih dari gaji PNS/ guru. Coba kamu bayangkan saja jika harga petai Rp. 25.000/ kg dan mereka mendapatkan perhari terkadang sampai 200 kg sudah cukup besar penghasilannya ujar tabuah di sela-sela memuat hasil hutan yang dibelinya dari ranger.

Itu baru dari satu jenis yang didapat dari hutan, belum lagi buah-buahan lain yang banyak di hutan baik idan, tampui, tughiang, itu semua berharga walau tidak sebesar harga petai. Namun itu cukup berarti bagi kami orang kampuang, ujar tabuah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *